Tuhan yang selama ini kita cari di luar sana sebenarnya adalah proyeksi dari kedalaman nurani kita sendiri. Dan setelah kita menyadari hal itu, kita tidak kehilangan Tuhan. Kita justru menemukan Tuhan dalam bentuknya yang lebih sejati: dalam cinta yang membebaskan, dalam kebenaran yang tidak memaksa, dan dalam keindahan yang menyatukan. Inilah fajar baru bagi peradaban kita, fajar di mana kita tidak lagi menyembah bayang-bayang, tetapi merayakan cahaya keberadaan itu sendiri. Inilah era di mana kita berani mengambil alih kemudi sejarah kita sendiri, dengan tangan yang lebih terbuka, hati yang lebih lapang, dan pikiran yang lebih tajam. Inilah saatnya kita benar-benar menjadi manusia. Buku ini bukan untuk menawarkan jalan pintas, tetapi untuk menguji sejauh mana pikiran kita mampu menanggung kerumitan filosofis dan teologis di luar batas-batas dogmatisme yang telah terlembaga. Nalar dan iman tidak dipaksa untuk berkompromi secara mudah, tetapi dibiarkan berbenturan secara jujur dan terbuka. Menjadi kritis tidak harus menihilkan spiritualitas, dan begitu juga sebaliknya, iman tidak perlu alergi terhadap gugatan keraguan. Keduanya dapat berdampingan tanpa harus saling mengeliminasi.
| Penulis | : | Afthonul Afif |
|---|---|---|
| Penerbit | : | IRCiSoD |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | - |
| Halaman | : | 244 |
Dr. Fu’ad Farid Isma’il & Dr. Abdul Hamid Mutawalli
Rp 70.000 25%
Rp 52.500