Bagaimana filsafat yang mula-mula menatap alam semesta akhirnya berbalik menatap jiwa manusia? Before and After Socrates karya Francis Macdonald Cornford membuka perjalanan itu dari sains Ionia, ketika para pemikir seperti Thales, Anaximander, dan Democritus berusaha melepaskan penjelasan dunia dari mitos dan menggantinya dengan pencarian rasional tentang alam, materi, gerak, dan asal-usul kehidupan. Namun, justru dari keberanian awal inilah muncul batasnya: sains Ionia mampu menjelaskan bagaimana dunia tersusun, tetapi belum cukup menjawab mengapa manusia hidup, apa yang baik, dan tujuan apa yang seharusnya membimbing tindakan manusia. Di titik inilah Socrates hadir sebagai krisis sekaligus belokan besar dalam sejarah filsafat. Dari Socrates, filsafat berpindah pusat: dari alam menuju jiwa, dari sebab-sebab fisik menuju pertanyaan tentang kebaikan, kebahagiaan, dan kesempurnaan spiritual. Tetapi warisan Socrates tidak bergerak dalam satu arah saja. Plato meneruskannya dengan menatap dunia ideal, tempat kebenaran dan keadilan dipahami sebagai bentuk-bentuk abadi yang melampaui pengalaman sehari-hari. Aristoteles, sebaliknya, menarik filsafat kembali ke dunia nyata: pada alam, kehidupan, bentuk, potensi, dan tujuan yang bekerja di dalam kenyataan.
| Penulis | : | Francis Macdonald Cornford |
|---|---|---|
| Penerbit | : | IRCiSoD |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | - |
| Halaman | : | 118 |
Dr. Fu’ad Farid Isma’il & Dr. Abdul Hamid Mutawalli
Rp 70.000 25%
Rp 52.500