Hermeneutika sebagai metode menafsirkan teks yang semakin digandrungi dalam kancah intelektual negeri kita memang memperlihatkan suatu “potensi kritis” yang sangat diperlukan di dunia kontemporer ini. Melalui hermeneutika, entitas pemikiran dan praktik kebudayaan apa pun seketika terkondisikan sebagai “anti kemapanan”, “anti rezimentasi”, dan “anti hegemoni”. Itu sepenuhnya memutlakkan dinaminasi, progresivitas, pluralisme, dan kritik-dekonstruksionis. Namun, ada kesulitan besar yang sangat signifikan untuk menarik beragam teori filsafat hermeneutika ke wilayah praksis keislaman (Islamic studies). Hermeneutika seolah-olah terwujud hanya sebagai “wacana murni” yang sama sekali tidak berhubungan dengan tradisi keislaman yang telah lama berkelindan dalam jutaan praksis. Di situlah, terjadi keterputusan simbiotik. Akibatnya, wajah Islam yang hermeneutis sama sekali belum menemukan formatnya yang membumi. Atas dasar kegelisahan tersebut, buku yang ditulis secara khusus untuk membedah “misteri hermeneutika” ini mencoba menusukkan sejarah, teori, dan filsafat hermeneutika ke jantung Islamic studies. Sebuah kelancangan “anak-anak Hermes” yang sangat komprehensif dalam menelanjangi para filsuf Barat, yang sepenuhnya berbingkai refleksi-refleksi “kesadaran transendental” khas Islam kontemporer yang hibrid: itulah hermeneutika transendental.
Penulis | : | Edi AH Iyubenu, dkk. |
---|---|---|
Penerbit | : | IRCiSoD |
Tahun terbit | : | 2025 |
ISBN | : | - |
Halaman | : | 308 |
Dr. Fu’ad Farid Isma’il & Dr. Abdul Hamid Mutawalli
Rp 70.000 25%
Rp 52.500