Jika logika informal mengajari kita dalam menyusun argumen yang sahih, dan critical thinking mengajari dalam aspek pengujian serta penilaian suatu argumen, maka metakognisi mengajarkan bagaimana kita menyadari cara kita dalam bernalar, menilai, dan mengambil keputusan. Alias, metakognisi adalah berpikir tentang cara kita berpikir. Itu, misalnya, terejawantah dalam pertanyaan sederhana, namun mendalam, seperti: “Apakah saya benar-benar memahami ini?” “Apa asumsi yang saya gunakan?” atau, “Apakah saya sedang mengabaikan informasi penting?” Pertanyaan-pertanyaan ini tidak muncul dari proses berpikir yang otomatis atau impulsif, melainkan dari refleksi aktif terhadap cara kita berpikir. Ini yang membedakan antara pemikir dangkal dengan pemikir kritis. Buku ini hadir sebagai strategi intelektual untuk membangun subjek pemikir yang tangguh dan fleksibel. Kesadaran diri ditempatkan sebagai inti dari proses berpikir, sehingga berpikir kritis dipahami sebagai kemampuan untuk mengenali keterbatasan, belajar dari kesalahan, dan terus memperbaiki cara berpikir. Metakognisi menjadikan berpikir kritis sebagai gaya hidup intelektual, yakni sebuah kebiasaan reflektif yang melatih kerendahan hati, ketekunan, dan keberanian mempertanyakan keyakinan sendiri.
| Penulis | : | Afthonul Afif |
|---|---|---|
| Penerbit | : | IRCiSoD |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | - |
| Halaman | : | 244 |
Dr. Fu’ad Farid Isma’il & Dr. Abdul Hamid Mutawalli
Rp 70.000 25%
Rp 52.500