Sejak pemberlakuan ambang batas parlemen pada Pemilu 2009, semua partai politik dihantui oleh mimpi buruk “tidak bisa kembali lagi ke Senayan”—jika gagal ke Senayan, mereka tidak hanya kehilangan kursi DPR, tetapi juga hak atas dana bantuan partai politik dari pemerintah, dan cenderung tidak berpeluang untuk menempatkan kadernya pada jabatan-jabatan penting pemerintahan. Padahal, itu semua menjadi modal utama untuk menggerakkan roda partai, termasuk menjadi bahan bakar untuk pertarungan di pemilu berikutnya. Oleh sebab itu, pelibatan kaum selebritis dianggap strategi jitu dalam mendongkrak suara, meski partai politik harus menggadaikan ideologinya. Tercatat, ada 116 caleg selebritis pada Pileg 2019, dan 111 caleg selebritis pada Pileg 2024. Bahkan, banyak dari caleg-caleg itu yang dengan mudahnya berpindah partai, menjadi “kutu loncat”, yang semakin mengonfirmasi bahwa ideologi partai tidak lagi berlaku jika berhadapan dengan kontestasi perebutan kekuasaan. Di sinilah, kemudian dapat didalilkan bahwa “suara mendulang, ideologi tumbang”. Dengan data yang lengkap dan analisis tajam, buku ini membongkar bagaimana efektivitas caleg-caleg selebritis dalam Pileg 2019 dan 2024, termasuk memerinci apakah mereka hanya menjadi vote getter atau memang benar-benar berkapasitas menjadi wakil rakyat.
| Penulis | : | Ridho Al-Hamdi |
|---|---|---|
| Penerbit | : | IRCiSoD |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | 978-634-7446-84-8 |
| Halaman | : | 274 |