Mengapa manusia kerap sulit merasa puas saat hidup berkelompok? Dalam buku ini, Freud membahas benturan antara hasrat mencari kesenangan dan tuntutan kehidupan bersama. Isu ini hadir dalam keseharian: bekerja, membangun keluarga, dan menjaga hubungan di tengah aturan, norma, serta tekanan sosial yang sering saling berbenturan. Peradaban memberi rasa aman, tetapi menuntut pengendalian diri. Freud menguraikan tiga sumber penderitaan: tubuh yang rentan, alam yang tidak dapat diprediksi, dan relasi antar-manusia yang mudah memicu perselisihan. Ia juga menyinggung berbagai cara orang meredakan beban hidup—melalui kerja, karya, hiburan, maupun keyakinan—serta akibatnya jika pelarian tersebut membuat kita menjauh dari kenyataan. Salah satu pokok bahasan penting ialah agresi. Freud menilai dorongan bermusuhan tidak lenyap; ia kerap berbalik ke dalam diri dan berubah menjadi suara hati yang mengawasi serta menghukum. Dari proses itu muncul rasa bersalah, kadang hadir sebagai gelisah yang sulit dijelaskan. Dengan analisis yang terstruktur, Freud mengajak pembaca menimbang konsekuensi kemajuan: aturan, moral, dan keteraturan yang menenangkan, namun juga dapat membatasi.
| Penulis | : | Sigmund Freud |
|---|---|---|
| Penerbit | : | IRCiSoD |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | - |
| Halaman | : | 180 |
Dr. Fu’ad Farid Isma’il & Dr. Abdul Hamid Mutawalli
Rp 70.000 25%
Rp 52.500