Secara kronologis, dialog Crito terjadi setelah Apologia Socrates. Dialog ini terjadi di dalam sel penjara Socrates setelah ia menerima vonis hukuman mati. Crito dan beberapa orang lain berupaya meyakinkan Socrates agar melarikan diri. Namun, bagi Socrates, seseorang tidak boleh bertindak berdasarkan kesepakatan mayoritas atau tekanan masyarakat, dan harus bertindak sesuai apa yang benar menurut akal dan moral. Ia memilih untuk tetap menghadapi hukuman mati itu. Setelah Crito, dialog perihal kematian Socrates ditutup oleh Phaedo. Dialog ini berisi percakapan terakhir Socrates bersama murid-muridnya sebelum ia meminum racun hemlock. Ia berusaha meyakinkan murid-muridnya bahwa jiwa itu abadi dan kehidupan masih berlanjut setelah tubuh mati. Dialog ini unik karena menyajikan pandangan metafisik, psikologis, dan epistemologis Plato. Dalam dialog ini tersaji setidaknya empat argumen untuk keabadian jiwa. Dengan membaca dua dialog ini sebagai satu dialog utuh pembaca akan mendapat gambaran tentang filsafat Socrates, bahwa seseorang semestinya hidup berdasarkan akal budi dan kebajikan, menaati prinsip moral meskipun menghadapi konsekuensi berat, serta memandang kematian bukan sebagai kekalahan, melainkan bagian dari kehidupan yang tidak perlu ditakuti jika seseorang telah hidup secara adil dan bijaksana.
| Penulis | : | Plato |
|---|---|---|
| Penerbit | : | basabasi |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | - |
| Halaman | : | 222 |
Dr. Fu’ad Farid Isma’il & Dr. Abdul Hamid Mutawalli
Rp 70.000 25%
Rp 52.500