Cut Nyak Dhien lahir dalam keluarga bangsawan Aceh, ketika ancaman kolonial Belanda mulai membayangi negerinya. Masa kecilnya di Lampadang, pernikahannya dengan Teuku Ibrahim Lamnga, hingga pengungsiannya ke hutan-hutan Aceh membentuk dirinya menjadi perempuan yang tak hanya mengenal duka, tetapi juga perlawanan. Ketika suaminya gugur dan tanah kelahirannya jatuh ke tangan Belanda, ia tidak memilih menyerah. Ia berdiri di tengah rakyat yang kehilangan rumah, pangan, dan harapan, lalu menjadikan luka itu sebagai alasan untuk terus bertempur. Perjalanan hidupnya kemudian bertaut dengan Teuku Umar, panglima cerdik yang memainkan siasat berbahaya dalam perang melawan Belanda. Namun, setelah sang suami gugur, ia tetap melanjutkan perjuangan seorang diri, meski usia menua, tubuh melemah, dan penglihatannya perlahan hilang. Dari kepemimpinan gerilya, penangkapan, pengasingan, hingga tempatnya dalam memori nasional, Cut Nyak Dhien menjelma sebagai lambang kehormatan yang tak tunduk: seorang perempuan yang kehilangan hampir segalanya, kecuali keberanian untuk menolak kalah.
| Penulis | : | Christian D. Simbolon |
|---|---|---|
| Penerbit | : | DIVA Press |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | - |
| Halaman | : | 170 |