Pertentangan antara kaum agamawan dan kaum Darwinian seolah tak bisa didamaikan. Keduanya bagaikan musuh bebuyutan. Menurut kaum agamawan, teori evolusi Charles Darwin, yang mengatakan bahwa manusia merupakan “tahap akhir” dari evolusi primata, wajib ditolak karena bertentangan dengan wahyu Tuhan. Sementara, menurut kaum Darwinian, teori evolusi diturunkan bukan dari abstraksi, melainkan hasil dari observasi ilmiah yang direkonstruksi menurut metode saintifik yang mapan, sehingga tak dapat dibatalkan bahkan oleh wahyu sekalipun. Akibatnya, lahirlah ekses yang kontra produktif, seperti kebijakan pelarangan pengajaran teori evolusi di sekolah-sekolah negeri oleh Mahkamah Agung Amerika Serikat pada tahun 1968, atau gerakan perlawanan terhadap teori evolusi Seventh-day dan Pantecostalism. Atas dasar itulah, Francisco J. Ayala, seorang filsuf cum biolog, menulis buku ini. Pesan yang disampaikan buku ini secara sederhana bisa diringkaskan ke dalam pernyataan berikut: sains dan keyakinan keagamaan tidak harus bertentangan. Jika sains dan agama dipahami dengan tepat, maka keduanya tidak mungkin bertentangan, karena sains dan agama masing-masing terkait dengan masalah yang berbeda. Sains lebih berkaitan dengan proses-proses penjelasan tentang alam semesta: bagaimana planet-planet bergerak, kompoisisi materi dan atmosfernya, asal mula dan fungsi organisme. Sementara, agama lebih berkaitan dengan makna dan tujuan dari dunia dan kehidupan manusia: hubungan yang sesungguhnya antara manusia dengan Sang Pencipta dan dengan sesamanya, nilai-nilai moral yang menginspirasi dan mengatur kehidupan masyarakat.
| Penulis | : | Francisco José Ayala |
|---|---|---|
| Penerbit | : | IRCiSoD |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | 978-623-6699-08-9 |
| Halaman | : | 290 |