Di balik lahirnya republik ini, terdapat perdebatan intelektual yang tajam, kompromi politik yang sulit, serta benturan ideologis yang justru menjadi fondasi kedewasaan nasional. Buku ini menyoroti secara mendalam polemik antara Soekarno dan Mohammad Natsir, dua tokoh besar yang berdiri pada horizon pemikiran berbeda, tetapi sama-sama serius dalam merumuskan masa depan Indonesia. Perdebatan mereka bukan sekadar pertentangan personal, melainkan cerminan benturan paradigma tentang negara, agama, demokrasi, dan legitimasi kekuasaan. Soekarno berbicara dari tradisi nasionalisme modern yang berupaya menyatukan keragaman dalam satu sintesis ideologis. Natsir menghadirkan refleksi politik Islam yang argumentatif, konstitusional, dan tidak lepas dari prinsip demokrasi. Dalam silang gagasan keduanya, tersingkap pertanyaan-pertanyaan mendasar: Apakah negara harus memikul tanggung jawab moral terhadap nilai agama? Apakah demokrasi cukup dipahami sebagai prosedur, atau ia juga mengandung dimensi etis yang lebih dalam? Di manakah titik temu antara keyakinan religius dan prinsip kesetaraan warga negara? Buku ini membongkar penyederhanaan yang selama ini melekat pada kedua tokoh. Debat Panas Soekarno Vs M. Natsir bukan sekadar rekonstruksi polemik masa lalu, tetapi undangan intelektual untuk membaca ulang fondasi negara Indonesia secara lebih jernih dan bertanggung jawab. Sebab pada akhirnya, perdebatan ini bukan milik masa lalu semata—ia adalah cermin bagi Indonesia hari ini dan masa depan yang terus kita bayangkan bersama.
| Penulis | : | Rima Yustina Ansor |
|---|---|---|
| Penerbit | : | IRCiSoD |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | - |
| Halaman | : | 242 |