Tidak ada hewan yang menyiksa hewan lain hanya untuk tujuan menyiksa, tetapi manusia melakukannya, bahkan menjadikannya tontonan yang nikmat: demi mengenyangkan ego! Maka, pantaslah Schopenhauer menyebut manusia sebagai hewan buas yang paling ganas, citra iblis yang jauh lebih buruk dari sifat hewani. Karakter buas ini lahir dari kehendak untuk hidup, namun terus-menerus diliputi penderitaan, sehingga berusaha meredakannya dengan menimbulkan penderitaan pada orang lain. Manusia memang punya akal: di satu sisi berfungsi untuk menimbang konsekuensi dari tindakan kejam dan menahan diri, namun di sisi lain justru memungkinkan hasrat kekejaman direncanakan dengan matang. Schopenhauer mencontohkan kasus di Inggris pada 1848, terungkap seratusan kasus pasangan yang saling meracuni atau orang tua yang meracuni anak-anak mereka hingga mati demi memperoleh uang dari asuransi pemakaman. Oleh karena itu, akal (kemampuan bernalar) tidak menjamin manusia berkarakter baik. Justru moralitas tumbuh ketika manusia memandang sesamanya sebagai makhluk yang sama-sama menderita, hingga menumbuhkan perasaan belas kasihan dan saling menguatkan. Dalam buku ini, Schopenhauer membedah hakikat manusia, mulai dari egoisme dan karakter, kehendak bebas dan fatalisme, naluri dan etika, watak pemerintah, hingga pemerintahan monarki yang dianggapnya lebih baik daripada republik.
| Penulis | : | Arthur Schopenhauer |
|---|---|---|
| Penerbit | : | IRCiSoD |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | - |
| Halaman | : | 146 |
Dr. Fu’ad Farid Isma’il & Dr. Abdul Hamid Mutawalli
Rp 70.000 25%
Rp 52.500