Saat kita tidur, menurut Bergson, ketegangan psikologis yang menghadapi realitas keseharian mulai mengendur. Akibatnya, otak, yang berfungsi menyaring ingatan saat terjaga, seketika membuka gerbang sehingga ingatan-ingatan masa lalu muncul tanpa sensor logika. Di saat yang sama, sensasi yang dirasakan tubuh saat kondisi tidur juga berperan memancing keluar ingatan-ingatan terpendam itu. Kesatuan dari berbagai anasir-anasir inilah yang membentuk isi dan alur mimpi, sehingga sering kali terlihat aneh, acak, dan sulit dipahami. Contohnya, seseorang tidur dan bermimpi kembali ke sekolah. Ia lalu bertemu dengan teman lama, dan tiba-tiba berada di pantai. Ingatan lama tentang sekolah dan teman ini rupanya karena sebelum tidur, ia memandang foto bersama teman kelas saat kelulusan. Ini juga berkelindan dengan sensasi pendengaran yang diterimanya saat tidur, karena kondisi sekelilingnya berisik seperti suara ombak, yang kemudian memunculkan ingatan tentang pantai. Pembahasan Bergson dalam buku ini memperlihatkan bahwa mimpi bukanlah pengalaman acak, tapi menjadi titik temu antara ingatan, sensasi tubuh, dan kehidupan batin yang memanifestasikan sisi kesadaran manusia di luar kendali rasional.
| Penulis | : | Henri Bergson |
|---|---|---|
| Penerbit | : | IRCiSoD |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | - |
| Halaman | : | 112 |