Apa jadinya jika cinta bukan sekadar perasaan, melainkan sebuah perintah? Buku ini mempersoalkan satu asumsi yang paling lama dipegang manusia: bahwa cinta adalah perasaan. Kierkegaard, dalam pemikiran radikalnya, menegaskan sebaliknya, yakni bahwa cinta adalah panggilan dan pilihan yang harus diambil setiap hari seumur hidup, tanpa menuntut balasan. Justru karena diperintahkan, cinta tidak bergantung pada suasana hati dan tidak goyah oleh kekecewaan. Kierkegaard kemudian mengurai serangkaian paradoks yang mengusik: orang yang mencintai dengan tulus tidak dirugikan secara moral oleh tipu daya, sebab kerugian terbesar justru ditanggung oleh pihak yang menipu—ia kehilangan kapasitas untuk mencintai, yang merupakan kebaikan paling tinggi. Cinta tetap mengharapkan yang terbaik bagi siapa pun, bahkan pada saat terakhir; menyerah atas orang lain adalah menyerah atas cinta, dan karenanya, menyerah atas diri sendiri. Bahkan mengingat yang telah wafat merupakan bentuk cinta yang paling murni, karena orang yang telah wafat tidak dapat menuntut apa pun. Sederhananya, Kierkegaard hanya ingin mengatakan satu hal: cinta kepada manusia adalah cinta kepada Tuhan; keduanya satu dan tidak terpisah. Siapa yang mengampuni, ia diampuni; siapa yang menghakimi, ia terhakimi. Tuhan adalah gema yang mengulang, dengan intensitas tidak terhingga, apa yang kau lakukan kepada sesama. Hakikat Cinta adalah cermin yang dipasang tepat di depan wajah pembaca, sebuah filsafat yang, sekali dibaca, tidak memberi ruang untuk menutup mata terhadap tanggung jawab moral.
| Penulis | : | Søren Kierkegaard |
|---|---|---|
| Penerbit | : | IRCiSoD |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | - |
| Halaman | : | 276 |
Dr. Fu’ad Farid Isma’il & Dr. Abdul Hamid Mutawalli
Rp 70.000 25%
Rp 52.500