Apakah semua hal di dunia ini terjadi karena menganut prinsip sebab-akibat? Jika memang begitu, apakah manusia masih memiliki kehendak bebas? Debat perihal kehendak bebas dan prinsip sebab-akibat tersebut, oleh Bergson, disebut berdiri di atas pemahaman keliru tentang waktu. Kita terbiasa berasumsi bahwa waktu dapat dibagi-bagi dalam berbagai momen terpisah, dapat dihitung, bersifat homogen, dan seakan-akan bisa meramal masa depan dengan melihat rangkaian penyebab sebelumnya. Padahal, menurut Bergson, waktu yang sungguh-sungguh kita alami bukanlah waktu matematis, akan tetapi durasi: waktu yang dialami dalam kesadaran, yang mengalir terus tanpa terputus; setiap pengalaman menyatu dengan pengalaman sebelumnya dan ikut membentuk pengalaman berikutnya. Oleh karenanya, prinsip sebab-akibat tidak dapat begitu saja diterapkan secara deterministik pada kehidupan batin manusia. Karena, manusia terus berubah, tumbuh, dan bertahan, alih-alih mengulang kejadian sebelumnya. Justru tindakan paling bebas ialah ketika ia melibatkan seluruh isi kepribadiannya dan mengekspresikannya—dari pengalaman, perasaan, pikiran, dan aspirasi yang telah menyatu dalam diri—sehingga menjadi ekspresi terdalam dirinya.
| Penulis | : | Henri Bergson |
|---|---|---|
| Penerbit | : | IRCiSoD |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | - |
| Halaman | : | 260 |
Dr. Fu’ad Farid Isma’il & Dr. Abdul Hamid Mutawalli
Rp 70.000 25%
Rp 52.500