Gramsci memandang kekuasaan modern bertumpu pada hegemoni: kepemimpinan yang membentuk persetujuan. Hegemoni selalu berpasangan dengan dominasi berbasis koersi. Politik bergerak lewat hubungan antara ekonomi, moralitas, dan kebudayaan; karena itu perebutan makna menjadi kerja sehari-hari dalam bahasa, tradisi, agama, serta tata kelembagaan yang mengatur perilaku publik. Konsep negara integral memperluas negara sampai masyarakat sipil—sekolah, pers, organisasi, hukum—sebagai aparatus hegemoni. Saat konsensus goyah, lahir krisis otoritas: elite mengganti program, merundingkan kompromi, atau mengembangkan demagogi untuk memulihkan kendali. Penguasa Modern, bagi Gramsci, adalah partai—organisme yang merajut kehendak kolektif nasional-populer. Di dalamnya, taktik dan strategi, disiplin serta kreativitas, dipadukan; reformasi intelektual-moral ditautkan dengan program ekonomi untuk menegakkan hegemoni baru. Buku ini memberikan peta strategis untuk mencermati kapan konsensus menguat, kapan terkikis, serta bagaimana organisasi politik merawat aliansi sosial. Dengan memahami ruang-ruang hegemoni, keputusan tak berhenti pada slogan, melainkan menjadi kerja yang sistematis: membentuk kesadaran, institusi, dan arah perubahan dalam kehidupan masyarakat yang lebih baik.
| Penulis | : | Antonio Gramsci |
|---|---|---|
| Penerbit | : | IRCiSoD |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | - |
| Halaman | : | 404 |