“Aku tidak sakit, tetapi juga tidak sehat.” Begitulah seseorang menggambarkan keadaan jiwanya kepada Seneca. Ia menyukai hidup sederhana, tetapi kemewahan orang lain masih mampu memikat pandangannya. Setelah pulang ke rumah, ia tidak menjadi lebih buruk. Hanya saja, ketenangannya telah terusik. Seneca tahu bahwa kegelisahan manusia tidak selalu lahir dari kesusahan. Kemakmuran pun dapat melemahkan jiwa. Amarah bisa membuat seseorang begitu yakin akan kebenarannya hingga kehilangan kemampuan untuk menilai dengan jernih. Dan di antara segala urusan yang dianggap penting, kita kehilangan hari demi hari tanpa benar-benar memanfaatkannya. Dalam buku ini, Seneca menguji pandangan manusia tentang kehidupan: keberuntungan, penderitaan, serta hasrat. Pemikirannya terkadang tanpa kompromi, bahkan tidak menyenangkan untuk didengar. Ia meminta kita memeriksa hal-hal yang selama ini kita kejar dengan begitu sungguh-sungguh, juga apa yang diam-diam kita korbankan untuk meraihnya. Ketenangan, bagi Seneca, menuntut kesanggupan untuk menentukan sikap bahkan ketika nasib tidak memberi kita pilihan.
| Penulis | : | Seneca |
|---|---|---|
| Penerbit | : | IRCiSoD |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | - |
| Halaman | : | 318 |
Dr. Fu’ad Farid Isma’il & Dr. Abdul Hamid Mutawalli
Rp 70.000 25%
Rp 52.500