Pada awal abad ke-20, filsafat Eropa menghadapi persoalan mendasar mengenai kepastian pengetahuan, dasar-dasar ilmu pengetahuan, dan hubungan antara “kesadaran” dengan dunia yang diketahui. Kebuntuan tersebut lalu direspons oleh Edmund Husserl dengan proyek fenomenologinya. Yakni, bukan menerima dunia sebagaimana apa adanya dalam sikap alami, namun menyelidiki sesuatu yang hadir, yang dialami, beserta makna-maknanya yang didapat oleh kesadaran. Maka, berbagai asumsi yang begitu saja diterima oleh kesadaran ditangguhkan untuk sementara waktu, yang disebut epoché, sehingga pengalaman diperiksa sebagaimana ia diberikan. Ini memberikan jalan bagi filsafat untuk mencapai pengetahuan yang sahih dengan membebaskan segala kemungkinan bias, prasangka, dan asumsi yang selama ini mengotori “pengetahuan”. Langkah ini berkembang jauh menjadi fenomenologi transendental, dan berpengaruh luas bagi filsafat sekaligus menjadi titik berangkat mengkritik dan membaca ulang sejumlah pemikir besar seperti Martin Heidegger, Edith Stein, Jean-Paul Sartre, dan Maurice Merleau-Ponty, serta turut memengaruhi hermeneutika, teori kritis, dekonstruksi, dan berbagai perkembangan filsafat Eropa setelahnya. Buku ini merupakan salah satu karya terpenting Husserl yang berisi kumpulan lima kuliahnya dan memuat upaya awal untuk merumuskan fenomenologi, dengan dasar yang radikal, sebagai suatu bentuk penyelidikan filosofis.
| Penulis | : | Edmund Husserl |
|---|---|---|
| Penerbit | : | IRCiSoD |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | - |
| Halaman | : | 146 |
Dr. Fu’ad Farid Isma’il & Dr. Abdul Hamid Mutawalli
Rp 70.000 25%
Rp 52.500