Pada 2 Desember 1851, Louis-Napoléon menghancurkan Republik Kedua Prancis melalui kudeta militer yang mengguncang Eropa. Marx segera menulis analisis atas peristiwa tersebut untuk menelusuri akar strukturalnya. Melalui pelacakan fase revolusi 1848–1851, menunjukkan bahwa kudeta itu bukanlah anomali sejarah, melainkan konsekuensi logis dari kontradiksi kelas yang terakumulasi selama tiga tahun. Marx membedah persaingan Partai Ketertiban—koalisi borjuis Legitimis dan Orléanis—yang semula bersatu untuk menumpas proletariat, tetapi kemudian menghasilkan kondisi yang menggagalkan dominasinya sendiri: proletariat dihancurkan pada Juni 1848, kelas pedagang kecil dipinggirkan, borjuasi parlementer kehilangan kendali atas tentara, sementara jutaan petani yang tercerai-berai menggantungkan harapan pada nama agung Napoleon Bonaparte sebagai juru penyelamat. Mitos inilah yang dimanfaatkan Louis-Napoléon untuk membangun legitimasi politiknya. Atas dasar itu, Marx merumuskan tiga kesimpulan utama: retorika dan gagasan partai sering berbeda dari kepentingan materielnya; mesin negara dapat berkembang menjadi kekuatan yang relatif otonom dan melampaui kendali kelas-kelas sosial; dan revolusi sejati tidak boleh meminjam jubah masa lalu. Buku ini memperlihatkan sejarah bukan dari permukaan peristiwa, melainkan dari relasi sosial yang menggerakkannya.
| Penulis | : | Karl Marx |
|---|---|---|
| Penerbit | : | IRCiSoD |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | - |
| Halaman | : | 212 |
Dr. Fu’ad Farid Isma’il & Dr. Abdul Hamid Mutawalli
Rp 70.000 25%
Rp 52.500