Sesuatu yang paling berbahaya dari kekuasaan adalah ketika ia tidak terasa seperti kekuasaan—semua tampak seperti budaya, bahasa, dan cerita yang diwariskan turun-temurun tanpa sempat dipertanyakan siapa yang menyusunnya. Gramsci memahami ancaman halus ini dengan sangat tepat, bahkan sebelum jeruji penjara rezim Mussolini membungkam aktivitasnya secara fisik. Tulisan-tulisan dalam buku ini berasal dari dua babak besar: jurnalisme aktivisnya di Turin (1913–1922) dan refleksi kontemplatifnya di balik jeruji (1929–1935). Dari kritik teater yang dimonopoli modal, analisis bahasa sebagai alat hegemoni kelas, pembacaan ulang Dante yang mengonfrontasi estetika Benedetto Croce, hingga cerita rakyat sebagai filsafat tersembunyi kelas bawah—semuanya menyatu dalam satu keyakinan: revolusi sejati harus mengubah cara orang berpikir dan bertindak. Bagi Gramsci, kebudayaan adalah medan perang paling senyap, dan kelas sosial yang tidak memiliki budayanya sendiri tidak akan pernah benar-benar merdeka. Membaca Gramsci hari ini berarti bergulat dengan pertanyaan yang merombak cara kita menilai: siapa yang memproduksi cerita kita, siapa yang memiliki bahasa kita, apakah pendidikan kita membentuk kesadaran kritis atau justru menghasilkan kepatuhan? Rangkaian tulisan ini menempatkan pembaca pada posisi yang sulit untuk tetap netral, karena di dalamnya tersusun perangkat untuk menelusuri bagaimana sesuatu yang tampak wajar sebenarnya dibentuk dan dipertahankan oleh kepentingan kekuasaan.
| Penulis | : | Antonio Gramsci |
|---|---|---|
| Penerbit | : | IRCiSoD |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | - |
| Halaman | : | 318 |