George Bernard Shaw dalam memadukan komedi ruang tamu khas abad ke-19 dengan drama gagasan yang sarat tantangan intelektual. Sebagai salah satu pendukung awal Henrik Ibsen di Inggris, Shaw mengadaptasi model problem play yang tragis menjadi komedi yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak penonton meninjau kembali secara kritis hakikat manusia dan kondisi kemanusiaan. Dengan demikian, kelucuan dalam drama Shaw tidak pernah menjadi tujuan akhir, melainkan pintu masuk menuju perdebatan filosofis. Di tengah dominasi estetisisme pada akhir abad ke-19 yang mengusung semboyan "seni untuk seni", Shaw mengambil posisi berseberangan. Ia secara konsisten menegaskan bahwa seni memiliki fungsi yang jauh melampaui pencarian keindahan. Seni, menurutnya, harus menjadi medium untuk menyampaikan kebenaran, membangkitkan kesadaran diri, serta mendorong perubahan sosial dan moral. Oleh karena itu, Manusia dan Adimanusia terasa lebih menyerupai arena perdebatan daripada drama konvensional. Alur cerita dan konflik antartokoh tidak diarahkan semata-mata untuk membangun ketegangan dramatik, melainkan juga untuk mempertemukan berbagai pandangan tentang cinta, perkawinan, kebebasan, moralitas, hingga evolusi manusia. Salah satu aspek paling menarik dari buku ini adalah cara Shaw menghidupkan konsep Superman Nietzsche tanpa sekadar menyalinnya. Bagi Shaw, manusia unggul bukanlah sosok yang berkuasa melalui kekuatan atau dominasi individual, melainkan individu yang mampu melampaui keterbatasan moral dan intelektual zamannya demi mendorong kemajuan kehidupan.
| Penulis | : | Bernard Shaw |
|---|---|---|
| Penerbit | : | basabasi |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | - |
| Halaman | : | 462 |