Buku ini melengkapi kajian Freud perihal psikoanalisis yang diterapkan pada kajian antropologi dan perkembangan kebudayaan manusia. Menurutnya, agama hanyalah ilusi yang lahir dari hasrat manusia (wish-fulfillment)—berangkat dari rasa ketidakberdayaan manusia menghadapi alam, penderitaan hidup, dan transformasi psikologis dari ketergantungan anak pada figur ayah (kompleks Oedipus), yang ketika anak ini dewasa, mewujud ketergantungan pada “Ayah Kosmik”, Yang Sakral, yakni Tuhan. Sehingga, agama dianalogikan sebagai neurosis obsesional universal yang menjadi sarana penyalur kebutuhan psikologis, pemberi rasa aman, penghibur yang bersifat ilusi, serta mampu—dengan seperangkat aturannya—menjaga kekompakan umat beriman karena menyembah Tuhan “yang sama”. Freud menganalogikan fungsi psikologis agama dengan ketergantungan pada stimulan atau narkotika: menghibur, tetapi menghalangi manusia menghadapi realitas. Demikian, ia pun mengajak manusia untuk tidak bergantung pada ilusi afektif ini, melainkan berani untuk menjemput ilmu pengetahuan yang menyuguhkan pengalaman empiris, rasionalitas, dan terpenting: berani menghadapi realitas. Jalan ini, menurut Freud, memanglah dingin dan keras—tidak semenghibur agama. Namun, ini akan memberikan sandaran sejati, bukan afeksi ilusi seperti ganjaran dan surga.
| Penulis | : | Sigmund Freud |
|---|---|---|
| Penerbit | : | IRCiSoD |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | - |
| Halaman | : | 114 |
Dr. Fu’ad Farid Isma’il & Dr. Abdul Hamid Mutawalli
Rp 70.000 25%
Rp 52.500