Setelah kita disuguhkan dengan banyak kisah seputar siluman rubah dalam Tiga Dewa Abadi, kali ini Pu Songling dalam Negeri Para Kanibal, menghadirkan lebih banyak lagi persinggungan-persinggungan aneh, entah itu dapat kita maklumi maupun tidak. Ia pun membumbuinya dengan sindiran dan kritik tajam terhadap rusaknya moral manusia yang terlalu mengikuti hawa nafsu. Di dalam buku ini, ada kisah tentang sebongkah batu menakjubkan yang tampak hidup—tenggelam dan muncul kembali, diperebutkan banyak orang, membawa keberuntungan sekaligus kesukaran, seakan memilih sendiri tuannya. Di kisah lain, seorang pemuda tampan terpikat pada gadis jelita yang datang diam-diam dan menantangnya dalam percakapan puitis. Namun, kekaguman itu memudar ketika kecerdasan si pemuda ternyata hanya sebatas penampilan luar. Kesalahan-kesalahan kecil yang tampak remeh justru meruntuhkan hubungan yang terasa magis. Ada pula kisah tentang sekelompok pemuda yang berniat bercanda dengan berpura-pura mengakhiri hidup demi membuat seorang gadis tertawa—lelucon itu berubah menjadi tragedi sungguhan yang begitu menyedihkan Beberapa kisah dalam buku ini juga membawa manusia menyeberangi batas dunia fana. Ada yang terseret ke Alam Bawah untuk menerima hukuman, ada yang diminta menegakkan keadilan, bahkan ada yang kembali untuk membalas dendam yang belum tuntas. Dengan gaya penulisan yang ringkas, elegan, dan khas, Pu Songling merangkai cerita-cerita yang sederhana di permukaan, namun sarat makna—mengajak pembaca merenungkan bahwa keajaiban, cinta, dan konsekuensi selalu berjalan beriringan dalam hidup manusia.
| Penulis | : | Pu Songling |
|---|---|---|
| Penerbit | : | DIVA Press |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | - |
| Halaman | : | 280 |