Emile Durkheim menempatkan b*nuh diri sebagai perspektif teoretis untuk menelaah tekanan sosial yang berimplikasi hingga ke wilayah personal. Dalam kajiannya tentang fenomena b*nuh diri, ia memperlihatkan betapa rapuhnya relasi individu–masyarakat. Ketika ikatan kolektif memasuki fase krisis, dampaknya dapat menjalar hingga memengaruhi keputusan yang paling privat. Sebagai salah satu tonggak sosiologi ilmiah, analisis Durkheim bertumpu pada penghimpunan data yang luas, perbandingan lintas kelompok, dan penalaran empiris untuk menilai persoalan moral serta eksistensial yang krusial. Tesis utamanya menegaskan bahwa solidaritas sosial adalah syarat keberlanjutan komunitas. Dengan membedakan tingkat integrasi dan regulasi sosial, Durkheim menunjukkan konsekuensi ketika keduanya timpang—baik terlalu lemah maupun terlalu ketat—serta bagaimana ketimpangan itu dapat mendorong kerentanan sosial pada level individual. Kerangka ini sekaligus menjadi kritik tajam atas modernitas dan senantiasa menantang pembacaan sosiologi kontemporer. Durkheim—tanpa menyederhanakan kompleksitas sosial dalam penilaian normatif—melalui mahakarya ini mengajak pembaca melihat bahwa penderitaan personal kerap berakar pada tatanan sosial yang bermasalah secara struktural; karena itu, respons yang memadai menuntut tanggung jawab kolektif, bukan semata solusi individual.
| Penulis | : | Emile Durkheim |
|---|---|---|
| Penerbit | : | IRCiSoD |
| Tahun terbit | : | |
| ISBN | : | - |
| Halaman | : | 190 |