Perempuan pernah dilarang bersekolah, dilarang memilih, dilarang hadir di ruang publik. Sistem patriarki merasuk ke dalam hukum, agama, ilmu pengetahuan, bahkan ke dalam cara masyarakat menentukan siapa yang berhak atas martabat dan kebebasan. Feminisme tumbuh dari akumulasi ketidakadilan itu—dari tuntutan hak pilih di Eropa abad ke-18, gelombang kritik atas budaya patriarki di tahun 1960-an, hingga perlawanan perempuan Papua yang mempertahankan hutan dari cengkeraman kapitalisme ekstraktif hari ini. Setiap fase perjuangan membawa persoalannya sendiri, setiap zaman menuntut strategi yang berbeda. Lima puluh tokoh feminis dari Barat dan Timur dihadirkan dalam buku ini sebagai peta gagasan yang hidup: bagaimana mereka membongkar relasi kuasa, menggugat tafsir agama yang membelenggu, dan membuktikan bahwa ketimpangan gender adalah konstruksi sosial yang bisa diubah. Feminisme Barat bergerak dari liberalisme dan sekularisme; feminisme Timur bernegosiasi dengan agama, tradisi, dan warisan kolonial. Keduanya bertemu pada satu keyakinan: perempuan layak atas keadilan yang utuh, bukan versi yang sudah dipangkas sebelum diberikan. Selamat membaca dan menjelajah dunia feminis.
| Penulis | : | Muhammad Muhibbuddin |
|---|---|---|
| Penerbit | : | IRCiSoD |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | - |
| Halaman | : | 536 |