Proyek Kant yang kerap dirayakan sebagai revolusi justru memperlihatkan wajah problematisnya: sebuah sistem besar yang berdiri di atas asumsi rapuh, lalu menutupinya dengan bahasa kritik. Kritik Akal Murni bukan penyelamatan akal, melainkan operasi pembatasan yang memaksa pengetahuan tunduk pada skema subjektif yang belum tentu layak disebut fondasi. Kausalitas, ruang dan waktu, intuisi, kategori, dan thing in itself bukan pilar kokoh, melainkan titik bocor yang terus mengkhianati ambisi Kant sendiri. Buku ini membongkar inti kebohongan metodologis Kant: ia mengaku menutup pintu metafisika, tetapi diam-diam membukanya kembali lewat postulat praktis, kebebasan moral, dan benda pada dirinya sendiri. Ia tidak benar-benar membunuh metafisika; ia hanya memindahkannya ke ruang yang lebih licik, kabur, dan sulit disanggah. Yang tampak sebagai disiplin epistemik sesungguhnya adalah strategi kamuflase: dogmatisme lama dibongkar di depan, lalu dibangun dogmatisme baru di belakang dengan wajah lebih sopan. Inilah sebabnya, Kant harus dibaca bukan hanya sebagai filsuf besar, melainkan sebagai pemikir yang sistemnya terus memproduksi kontradiksi. Ia mengguncang sejarah filsafat, tetapi guncangan itu tidak bersih; ia datang bersama paradoks yang tak pernah selesai dirapikan. Keagungannya justru tampak dari kelemahannya yang telanjang ketika dibaca tanpa hormat berlebihan: sistem yang hendak memenjarakan akal ternyata tak sanggup mengendalikan lubang-lubang yang ia ciptakan sendiri.
| Penulis | : | Yahya Muhammad |
|---|---|---|
| Penerbit | : | IRCiSoD |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | - |
| Halaman | : | 258 |
Dr. Fu’ad Farid Isma’il & Dr. Abdul Hamid Mutawalli
Rp 70.000 25%
Rp 52.500