Dalam buku ini, Nietzsche melayangkan gugatan terhadap keyakinan yang masif berkembang di Jerman waktu itu, bahwa akumulasi pengetahuan sejarah dengan sendirinya menjadi penanda kemajuan kebudayaan suatu bangsa. Padahal, menurutnya, sejarah bukanlah pengetahuan netral, yang jika dikumpulkan juga memiliki konsekuensi bagi kehidupan. Bahkan, ketika kesadaran historis dan romantisasi masa lalu menjadi berlebihan, manusia justru berisiko dikuasai oleh sejarah: kehilangan keberanian untuk bertindak dan mengalami penumpulan daya kreatif. Mestinya, pengetahuan sejarah berguna untuk melayani kehidupan dan kebudayaan, melayani manusia, bukan sebaliknya. Nietzsche juga mewanti-wanti secara tegas bahaya dari campur tangan negara dan universitas terhadap filsafat. Dua instrumen itu akan membuat filsafat kehilangan kemandirian, karena filsuf dituntut untuk melayani negara, melayani tuntutan profesi, hingga berjibaku dengan kurikulum universitas tanpa benar-benar memiliki pikiran mandiri sesuai hati nurani, bahkan berpotensi pendapatnya digunakan untuk memengaruhi opini publik demi tujuan-tujuan politis. Inilah era kemerosotan filsafat! Melalui Schopenhauer, Nietzsche menjadikannya contoh seorang filsuf yang gagah berani berpikir mandiri, menolak kemewahan “jabatan akademis”, melawan konformitas, membentuk diri dalam pergulatan intelektual yang jujur. Schopenhauer-lah, bagi Nietzsche, yang layak menjadi guru dan teladan agung!
| Penulis | : | Nietzsche |
|---|---|---|
| Penerbit | : | IRCiSoD |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | - |
| Halaman | : | 244 |
Dr. Fu’ad Farid Isma’il & Dr. Abdul Hamid Mutawalli
Rp 70.000 25%
Rp 52.500