Peringatan Tan Malaka sebagai “Bapak Republik” sebetulnya sudah dimulai jauh sebelum kematiannya sendiri. Dalam pamflet tahun 1946, Tan Malaka: Bapak Republik, Muhammad Yamin menyebutnya sebagai legenda hidup, sosok dengan talenta luar biasa yang tetap terselimuti misteri. Pada pembukaan teksnya, Yamin bertanya: “Siapakah Tan Malaka?” “Apakah seorang penulis, pakar filsafat dan pemimpin politik, yang selama lebih dari seperempat abad nyalar menjadi teka-teki bagi seluruh parket, gestapo, kempeitai dan polisi?” Bagi Yamin, Tan Malaka merupakan nenek moyang revolusi Indonesia yang pertama dan utama. Dalam pandangannya, buku Naar de “Republiek Indonesia” ini, yang ditulis di Singapura tahun 1925, adalah manifesto politik pertama yang membayangkan sebuah Republik Indonesia, dua dekade sebelum proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Sebab itulah Yamin menyebut Tan Malaka sebagai sang penggagas revolusi dan bapak republik. Bahkan, dalam Tan Malaka: Bapak Republik Yang Dilupakan, Yamin dengan terang benderang menyebut Tan Malaka sebagai orang yang “mendirikan” Republik Indonesia.
| Penulis | : | Tan Malaka |
|---|---|---|
| Penerbit | : | IRCiSoD |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | - |
| Halaman | : | 106 |