Humanisme Gie berangkat dari keprihatinan mendalam terhadap penderitaan manusia konkret. Kritiknya terhadap kekuasaan—baik Orde Lama maupun Orde Baru—tidak didorong oleh ambisi ideologis semata, melainkan oleh sensitivitas moral terhadap ketidakadilan, kemunafikan, dan pengkhianatan terhadap rakyat. “Aku selalu besertamu, orang-orang malang,” begitulah tegasnya, sebagai wujud pembelaannya terhadap wong cilik yang tertindas dan tak berdaya. Dalam catatan hariannya, ia menolak Tuhan yang diyakini, dipersepsikan, dan dibakukan sebagai dogma teologis dalam agama-agama formal, tetapi ia tidak anti dengan Tuhan sebagai Wujud Kebenaran. Ia tidak menemukan Tuhan dalam ritus-ritus formal, melainkan dalam keheningan gunung, dalam kesederhanaan hidup, dalam keberanian menentang ketidakadilan, dan dalam kejujuran terhadap kenyataan. Baginya, mendaki gunung bukan pelarian atau rekreasi, tetapi laku batin, yakni sebuah langkah untuk melawan hiruk-pikuk kepalsuan sosial dan membangun semangat patriotisme berbasis kenyataan. Hari ini, membaca Gie berarti membaca sejarah perlawanan dan pergumulan batin. Dengannya, kita diajak untuk melakukan kontemplasi mendalam agar tidak kehilangan idealisme dan kewarasan akal di tengah gejolak krisis eksistensial dan krisis kemanusiaan yang tak henti-hentinya ini.
| Penulis | : | Muhammad Muhibbuddin |
|---|---|---|
| Penerbit | : | IRCiSoD |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | - |
| Halaman | : | 230 |
Dr. Fu’ad Farid Isma’il & Dr. Abdul Hamid Mutawalli
Rp 70.000 25%
Rp 52.500