Sekalipun Tan Malaka terkenal sangat keras mengkritik Logika Mistika demi terbangunnya Logika Saintifika, ia sebenarnya tidak serta-merta menafikan pengalaman spiritual yang hidup dalam masyarakat Nusantara. Logika Mistika yang dikritiknya bukan ditolak sama sekali, melainkan dijadikan titik berangkat (tesis) untuk melahirkan antitesis, dan pada akhirnya menuju sintesis. Madilog sendiri bisa dikatakan sebagai sintesis dari Logika Mistika (tesis) dan Logika Saintifika (antitesis). Atas dasar itulah, di hadapan Kongres Komunis Internasional ke-4 di Moskow pada 1922, Tan Malaka mengatakan, “Di hadapan Tuhan, aku adalah seorang Muslim. Tapi, di hadapan manusia, aku adalah seorang Marxis.” Konsekuensinya, analisis sebab penderitaan dan kemiskinan masyarakat terjajah haruslah berbasis pada rasionalitas-material, tetapi perjuangan melawan penindasan membutuhkan etos moral dan etika yang lebih berbasis pada tradisi spiritual. Tulisan ini berusaha menguraikan secara sederhana tentang pemikiran Tan Malaka berkenaan pandangan dialektisnya yang menggunakan Logika Mistika sebagai titik pijaknya. Sebagai tokoh yang lahir dari tradisi Minangkabau, Tan Malaka tidak sekadar mewarisi nilai-nilai intelektual dan sosial, tetapi juga nilai-nilai spiritual, terutama yang dia serap dari sistem pendidikan surau.
| Penulis | : | Muhammad Muhibbuddin |
|---|---|---|
| Penerbit | : | IRCiSoD |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | - |
| Halaman | : | 146 |