Herbert Spencer memulai dengan gagasan “evolusi super-organik”: masyarakat tumbuh lewat integrasi tindakan banyak orang, bertahap menuju struktur yang kian tersusun. Sosiologi, baginya, menelaah pola keteraturan yang lahir dari gabungan faktor lingkungan, kebiasaan, serta kapasitas manusia. Dari kerangka ini, perubahan sosial dipahami sebagai hasil komposisi sebab yang saling menumpuk, bukan akibat tunggal. Pada tahap awal, Spencer menyorot manusia primitif: tubuh rentan, emosi meledak, nalar masih sederhana. Ketakutan, kekaguman, lapar, serta rasa sakit, memicu penjelasan berwatak personal. Keserupaan kerap disamakan dengan identitas; pengalaman batin diperlakukan setara peristiwa nyata. Dari sini muncul cara berpikir yang menular: bagian dianggap membawa sifat keseluruhan, benda milik seseorang diyakini menyimpan daya. Pola ini menyiapkan lahan bagi pantangan, jimat, serta aturan yang kelak mapan. Rangkaian pengalaman ambang batas—mimpi, pingsan, ekstasi, mati suri, kematian—melahirkan konsep “diri kedua”. Diri kedua yang berkelana saat tidur pelan-pelan berubah menjadi jiwa, hantu, roh. Ketika entitas itu mapan, penyakit, kejang, kegilaan, kematian mudah ditafsir sebagai gangguan agen supranatural. Praktik pengusiran setan pun menguat, lalu melebar menjadi sihir yang mengeklaim kemampuan memerintah roh. Dalam alur ini, emosi memberi energi, imajinasi menyediakan tokoh penyebab. Puncaknya, Spencer menautkan ritus keagamaan pada ritus pemakaman. Areal makam berkembang menjadi ruang suci; monumen kubur beralih rupa menjadi altar atau kuil. Persembahan, puasa, doa dibaca sebagai teknik sosial untuk merawat relasi dengan orang mati, kemudian dilembagakan. Dengan contoh lintas kebudayaan, Spencer memetakan genealogi keyakinan, memberi kerangka penjelasan koheren, yang relevan bagi pembaca masa kini.
| Penulis | : | Herbert Spencer |
|---|---|---|
| Penerbit | : | IRCiSoD |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | - |
| Halaman | : | 410 |