Argensola, rohaniwan terpelajar yang menerima mandat dari Don Pedro Fernández de Castro y Andrade, untuk menyusun kronik Maluku yang berotoritas negara. Ia meramu arsip, kabar pelaut, dan kesaksian langsung, lalu memaparkan bentang alam, adat istiadat, bahasa, agama, serta politik yang melingkupi Kepulauan Rempah. Buku ini menelusuri silsilah raja-raja Ternate–Tidore dan dinamika suksesi, disertai potret perniagaan. Cengkih hadir sebagai denyut ekonomi, beriringan dengan sagu, tuak, gunung berapi, musim, serta fauna yang membentuk ruang hidup masyarakatnya. Sengketa Spanyol–Portugal, perdebatan kosmografi, dan perebutan jalur pelayaran membentangkan kerangka global. Dalam situasi tersebut, Belanda dan Inggris muncul sebagai pesaing yang memanfaatkan retaknya aliansi lokal. Rangkaian peristiwa itu menampakkan betapa cepatnya persekutuan bergeser di laut maupun di darat. Dari Malaka ke Ambon dan Banda, pembahasan mengenai Ferdinand Magellan, korespondensi Francisco Serrão, serta logika navigasi yang mengubah peta kekuasaan. Puncaknya adalah ketika Don Pedro de Acuña meninggalkan Manila untuk memimpin ekspedisi penaklukan kembali Maluku. Pertempuran, diplomasi, dan tekanan monopoli dagang berkelindan dengan suara perlawanan lokal. Dengan demikian, pembaca memperoleh konteks mengapa Maluku diperebutkan, sekaligus bagaimana klaim-klaim tersebut dibangun melalui bahasa sejarah resmi.
| Penulis | : | Bartolomé Leonardo de Argensola |
|---|---|---|
| Penerbit | : | IRCiSoD |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | - |
| Halaman | : | 528 |