"Niniwe tidak sekadar dihancurkan, kota itu dihapus dari ingatan bumi hingga perlahan menyerupai mitos." Austen Henry Layard, Nineveh and Its Remains (1849) Selama berabad-abad Kekaisaran Asiria mendikte denyut nadi peradaban Asia Barat Kuno. Mereka adalah arsitek pertama dari konsep imperium dunia yang mendahului Romawi dan Persia. Tembok istana mereka menjulang menyentuh awan sementara pasukan besi mereka menebar ketakutan melintasi tiga benua. Namun sebuah ironi sejarah yang memilukan terjadi ketika kekuatan absolut itu runtuh seketika pada musim panas tahun 612 SM. Metropolis Niniwe yang megah itu hangus terbakar dan terkubur di bawah pasir gurun. Di balik berdirinya perpustakaan raksasa dan akuaduk yang menakjubkan, terdapat keringat para juru tulis dan ribuan pekerja paksa yang namanya tidak pernah diukir pada prasasti istana. Karya ini adalah sebuah upaya sederhana untuk mendengarkan kembali suara-suara lirih dari kaum jelata yang turut menanggung beban berat peradaban. Melalui lembaran buku ini kita akan menyaksikan bahwa mahakarya sesungguhnya dari bangsa Asiria bukanlah kemampuan mereka dalam berperang. Pusaka terbesar mereka adalah daya tahan luar biasa dari rakyat biasa yang menolak untuk ikut punah bersama runtuhnya tembok istana.
| Penulis | : | Wisnu Yudha Wardana |
|---|---|---|
| Penerbit | : | IRCiSoD |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | - |
| Halaman | : | 124 |