Di tengah arus kolonialisme abad XVII yang menyebar di seluruh penjuru Nusantara, muncul sosok pemimpin yang menolak tunduk terhadap kesewenang-wenangan VOC dalam monopoli perdagangan. Dia adalah Raja Gowa ke-XVI: Sultan Hasanuddin. Ia merupakan raja yang tak sekadar panglima perang, tetapi juga sosok yang paling teguh mempertahankan prinsip perdagangan bebas, penjaga kedaulatan wilayah, dan benteng pertahanan martabat rakyat Gowa. Buku ini mengantarkan pembaca untuk menelusuri jejak perjalanan Sultan Hasanuddin dari pendidikan di masa mudanya, perannya dalam berbagai tugas, hingga masa kepemimpinannya menghadapi tekanan VOC yang semakin tidak berperikemanusiaan. Perang Makassar, Perjanjian Bongaya, dan pertahanan terakhir di Benteng Sombaopu tidak hanya dikisahkan sebagai peristiwa sejarah semata, melainkan potret pergulatan batin Sultan Hasanuddin dalam meneguhkan nilai, keyakinan, serta visi tentang masa depan Gowa. Ditulis dengan naratif-historis dari sumber-sumber kredibel, buku ini menempatkan Sultan Hasanuddin sebagai simbol antimonopoli, penjaga identitas maritim nusantara, dan pemimpin yang teguh dalam menghadapi kekalahan. Refleksi tentang pentingnya nilai kepemimpinan dan keberanian dihadirkan sebagai upaya untuk menjaga relevansinya terhadap tantangan global generasi masa kini yang kembali menguji kedaulatan dan keadilan.
| Penulis | : | Kukuh Lutfi Syamsiar |
|---|---|---|
| Penerbit | : | DIVA Press |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | - |
| Halaman | : | 178 |