Tenun Akar menempatkan keluarga sebagai tempat pertama manusia belajar tentang kasih sayang, hak, tanggung jawab, dan kuasa. Melalui peristiwa sehari-hari, Misharti membicarakan kebiasaan yang diwariskan antargenerasi, cara orang tua mendengarkan anak, pengelolaan kemarahan, pembagian pekerjaan rumah, serta pendampingan anak ketika tumbuh dan menentukan jalan hidupnya. Pembaca diajak menjaga nilai keluarga yang menguatkan sambil berani menghentikan kebiasaan yang meninggalkan luka. Pembahasan berlanjut pada kehidupan perempuan sebagai pribadi yang memiliki akal, kebutuhan, hak, dan tanggung jawab atas pilihan hidupnya. Pengabdian kepada keluarga dibicarakan bersama kebutuhan untuk belajar, menjaga kesehatan, memperoleh dukungan, dan turut menentukan keputusan. Keberdayaan perempuan memperoleh makna ketika pekerjaan dibagi secara adil dan suaranya didengar, baik di rumah maupun dalam kehidupan masyarakat. Nilai-nilai Islam dan adat Kampar menjadi dasar untuk membicarakan hubungan antara kewenangan dan tanggung jawab. Qiwamah dipahami sebagai amanah yang menuntut kehadiran, keteladanan, serta musyawarah. Falsafah Tali Bapilin Tigo, Tigo Tungku Sajoghangan mengantarkan pembahasan tentang kerja bersama pemerintah, alim ulama, dan ninik mamak dalam menjaga kehidupan masyarakat. Dari rumah, buku ini bergerak menuju kepemimpinan dan pelayanan publik. Misharti menyoroti kewajiban pemegang jabatan untuk mendengarkan warga, menghormati batas kewenangan, menerima kritik, dan memberikan pelayanan yang adil. Ditulis sebagai esai pemikiran dengan bahasa yang dekat dengan pengalaman sehari-hari, Tenun Akar mengajak orang tua, pendidik, pegiat perempuan, serta pemimpin masyarakat menimbang kembali cara menggunakan kuasa dan warisan kehidupan yang hendak diteruskan kepada generasi berikutnya.
| Penulis | : | Misharti |
|---|---|---|
| Penerbit | : | DIVA Press |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | - |
| Halaman | : | 282 |