Hume dalam The Morals menolak moralitas sebagai hasil akal murni. Baik–buruk muncul dari sentimen ketika manusia menilai karakter dan tindakan reflektif. Akal hanya menata fakta dan relasi ide, tetapi tidak memotivasi; lompatan dari “adalah” ke “seharusnya” perlu rasa menyetujui atau menolak. Agar penilaian stabil, Hume mengandalkan simpati: kebahagiaan dan penderitaan orang lain terasa, sehingga pujian dan celaan melampaui kepentingan pribadi. Kebiasaan, pendidikan, serta institusi membentuk sudut pandang yang tenang, membedakan kebajikan alami dan kebajikan artifisial. Pendekatan Hume dalam buku ini relevan bagi zaman kini: simpati menjelaskan kepekaan publik terhadap penderitaan, sementara kebiasaan dan institusi mengarahkan penilaian kolektif. Di tengah sumber daya terbatas dan insentif jangka pendek, kerja sama bergantung pada aturan yang konsisten, penegakan hukum yang dipercaya, serta pengakuan bahwa kualitas pribadi seperti kecerdasan dan pengetahuan juga bernilai moral.
| Penulis | : | David Hume |
|---|---|---|
| Penerbit | : | IRCiSoD |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | - |
| Halaman | : | 256 |
Dr. Fu’ad Farid Isma’il & Dr. Abdul Hamid Mutawalli
Rp 70.000 25%
Rp 52.500