Dengan kejeliannya mengamati hal-hal di sekitarnya, Pu Songling dalam karyanya ini mampu menghadirkan dunia yang ganjil sekaligus memikat; dunia di mana yang gaib menyusup ke dalam keseharian manusia dan menyingkap kebenaran yang kerap luput dari mata. Misalnya, kisah seorang pemuda yang mati suri selama tiga hari lalu menerima tawaran mulia menjadi malaikat penjaga, namun memilih menangguhkan jabatan itu demi berbakti kepada ibunya. Atau, kisah seorang pria yang matanya dibutakan oleh teguran misterius, justru memperoleh “penglihatan” baru dan menuntunnya menuju hidup yang lebih bijaksana. Ia seorang penulis genius yang memadukan fantasi, satire, dan perenungan moral. Ada kisah seorang pengelana yang terpesona oleh lukisan gadis di dinding wihara, yang mendapati dirinya memasuki dunia lain dan menikahi sosok tersebut. Ada pula kisah seorang petani kikir yang menolak memberikan sebutir pir dagangannya kepada seorang pendeta Tao, lalu menyadari bahwa keserakahannya telah merugikan diri sendiri. Ia pun menghadirkan banyak kisah tentang siluman rubah yang menjelma manusia, atau tentang iblis yang menyaru sebagai manusia, menyingkap wajah gelap hasrat dan tipu daya, memperingatkan betapa tipis batas antara kebajikan dan kebinasaan. Kisah-kisah dalam kumpulan ini sesungguhnya merupakan refleksi tajam atas kehidupan manusia—tentang relasi antara anak dan orang tua, ambisi dan kegagalan, keserakahan, cinta, serta pencarian makna hidup. Dengan gaya bahasa yang elegan, padat, dan kaya nuansa, cerita-cerita ini dirangkai secara sederhana, namun berlapis makna sehingga setiap peristiwa ganjil terasa sekaligus simbolis dan membumi. Tak jarang kisah-kisah tersebut ditutup dengan akhir yang menggantung atau menyisakan ambiguitas, seolah sengaja memberi ruang bagi pembaca untuk menafsirkan sendiri nasib para tokohnya.
| Penulis | : | Pu Songling |
|---|---|---|
| Penerbit | : | DIVA Press |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | - |
| Halaman | : | 276 |