Berbeda dari negara-bangsa modern yang dibangun di atas kontrak politik dan batas teritorial yang relatif baru, Tiongkok adalah entitas yang ditopang oleh kesinambungan budaya, nilai, dan struktur sosial ribuan tahun. Negara bukan sekadar institusi administratif, melainkan penjaga sekaligus perwujudan sebuah peradaban besar. Dari konsep Tianxia dan etika Konfusianisme, hingga disiplin keras Legalisme, fondasi inilah yang membentuk “sistem operasi” Tiongkok yang kini diperbarui dengan instrumen modernitas. Buku ini menelusuri bagaimana teknologi pengawasan, teknokrasi digital, dan ambisi global seperti Belt and Road Initiative bukanlah anomali, melainkan evolusi nilai lama yang beradaptasi dengan zaman. Mandat Langit bertransformasi menjadi legitimasi berbasis kinerja; stabilitas menjadi nilai tertinggi yang lahir dari luka sejarah “Abad Penghinaan”; dan modernitas diserap tanpa kehilangan kontinuitas peradaban. Disusun sebagai perjalanan melintasi waktu, dari akar filosofis kuno, trauma kolonial, eksperimen revolusioner Mao, hingga paradoks Tiongkok kontemporer, buku ini menghadirkan potret utuh tentang kebangkitan Sang Naga. Sebuah refleksi khusus melalui perspektif Indonesia menutup pembahasan, mengajak kita memahami Tiongkok bukan sebagai ancaman yang simplistik, tetapi sebagai salah satu poros besar peradaban dunia yang sedang kembali ke panggung sejarah. Memahami Tiongkok bukan berarti menyetujui seluruh pilihannya. Ia berarti membaca arah zaman. Dan masa depan, seperti masa lalu, akan dibentuk oleh peradaban-peradaban besar yang berani mendefinisikan jalannya sendiri.
| Penulis | : | Wisnu Yudha Wardana |
|---|---|---|
| Penerbit | : | IRCiSoD |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | - |
| Halaman | : | 188 |