Bagaimana jadinya jika Shakespeare memiliki seorang saudari yang juga berbakat dalam hal menulis seperti sang kakak? Virginia Woolf membayangkan nasib perempuan tersebut dan memperlihatkan bahwa bakat dapat terhambat ketika seseorang tidak memperoleh kesempatan untuk belajar, mencari nafkah, serta menentukan jalan hidupnya sendiri. Hambatan serupa juga mewarnai kehidupan sejumlah penulis perempuan, mulai dari tuntutan rumah tangga dan keterbatasan kesempatan untuk menulis hingga prasangka masyarakat yang meremehkan karya perempuan. Prasangka tersebut turut mendorong sejumlah penulis menggunakan nama pena laki-laki untuk menyembunyikan identitas. Melalui karya para penulis perempuan, pengalaman sehari-hari dan hubungan antar-sesama perempuan yang sebelumnya jarang dituliskan mulai mendapat tempat dalam sastra. Pertama kali terbit pada 1929, buku ini memadukan pengamatan sehari-hari, kisah rekaan, dan renungan tentang hambatan sosial dan ekonomi yang dihadapi perempuan dengan gaya yang akrab serta humor yang halus. Salah satu gagasan utamanya adalah perlunya penghasilan dan ruang pribadi agar seorang perempuan dapat berpikir dan menulis dengan tenang; ketenangan itulah yang memungkinkan pengalaman dan pemikiran tersampaikan dalam khazanah sastra dengan suara yang khas.
| Penulis | : | Virginia Woolf |
|---|---|---|
| Penerbit | : | DIVA Press |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | - |
| Halaman | : | 204 |