Al-Qur’an bukanlah susunan ayat yang diletakkan sembarangan, apalagi sekadar dihimpun tanpa arah. Ia adalah bangunan makna yang tegas, tertib, dan saling mengunci; satu surah menyingkap keterhubungan surah sebelumnya, lalu surah berikutnya datang menegaskan, memperinci, dan menyempurnakan. Urutan itu sendiri sudah cukup menjadi bukti bahwa wahyu ini tidak terjadi secara kebetulan. Siapa yang membaca dengan batin jernih akan melihat bahwa yang ringkas tidak dibiarkan menggantung, yang global tidak dibiarkan kabur, dan yang samar tidak dibiarkan lolos tanpa penjelasan. Al-Qur’an menuntut pembacanya untuk cermat. Ia menyusun makna dengan disiplin yang kuat, sehingga setiap bagian berdiri sebagai penguat bagi bagian lain. Karena itu, keagungan al-Qur’an tidak berhenti pada keindahan lafazh, tetapi justru memuncak pada ketegasan susunan dan kekokohan jalinan antarbagiannya. Setiap surah seperti mata rantai yang dipaku erat, membentuk satu petunjuk yang utuh dan sulit dibantah oleh akal yang tidak dangkal. Dari keserasian itu, tampak jelas: al-Qur’an bukan untuk dibaca sambil lalu, melainkan untuk ditelaah dengan sungguh-sungguh.
| Penulis | : | Imam Jalaluddin As-Suyuthi |
|---|---|---|
| Penerbit | : | DIVA Press |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | - |
| Halaman | : | 278 |