Bagaimana pesantren bisa tetap relevan di tengah arus globalisasi dan dinamika sosial yang semakin kompleks? Model pembinaan moderasi beragama melalui konseling dan komunikasi psikologis hadir sebagai jawaban. Dengan pendekatan ini, pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga ruang pembentukan karakter inklusif, toleran, dan adaptif, tanpa kehilangan identitas Islam yang mendalam. Model ini menyatukan teori konseling modern dengan tradisi pesantren untuk menjadikannya alat untuk mentransformasi pemikiran serta emosi santri. Konseling bukan sekadar memecahkan masalah, tapi juga membangun empati dan regulasi diri, sementara komunikasi psikologis menciptakan hubungan dialogis antara pengajar dan santri. Proses internalisasi ini berjalan harmonis dengan praktik spiritual khas pesantren. Melalui pendekatan ini, transformasi moderasi beragama bukanlah sekadar teori, melainkan proses alami yang tumbuh dari interaksi sehari-hari. Hasilnya, muncul generasi muslim moderat yang tidak hanya matang secara spiritual dan emosional, tapi juga mampu menjadi duta harmoni di tengah masyarakat multikultural. Sebuah model sekaligus harapan untuk pendidikan Islam yang visioner.
| Penulis | : | Drs. Zainul Arifin, M.Ag., Dr. Hj. Rofiqoh, M.Pd., Djoko Susanto, Ph.D. |
|---|---|---|
| Penerbit | : | DIVA Press |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | - |
| Halaman | : | 168 |