Selain sebagai agama, Islam adalah peradaban. Islam pernah menorehkan prestasi gemilang yang dikenal sebagai era Keemasan Islam, yang melahirkan para filsuf dan ilmuwan kaliber dunia yang pemikiran, karya, serta pengaruhnya masih diperbincangkan sampai hari ini. Taruhlah misalnya al-Farabi, Ibnu Sina, Jabir bin Hayyan, al-Ghazali, Ibnu Bajjah, Ibnu Rusyd, al-Khwarizmi, al-Biruni, al-Jahiz, al-Farghani, al-Razi, dan lain sebagainya. Dari merekalah, Barat banyak belajar dan mengembangkan keilmuan sehingga meraih Pencerahan dan kemajuan. Meski sempat terpuruk, kini telah muncul generasi baru pemikir Muslim yang berusaha membangkitkan kembali peradaban Islam dengan menawarkan beragam metode, pendekatan, dan perspektif baru, termasuk memandang perlunya pintu ijtihad dibuka lebar dan mendialogkannya dengan kemajuan zaman yang begitu kompleks. Misalnya Arkoun, Hassan Hanafi, Hossein Nasr, hingga Nurcholish Madjid dan Gus Dur yang datang dari wilayah Asia Tenggara. Mereka menekankan pentingnya integrasi antara ilmu klasik (tradisi) dan ilmu pengetahuan modern. Karena itu, mengkaji pemikir Muslim merupakan bagian penting dari upaya memahami perkembangan peradaban manusia, khususnya dalam bidang agama, filsafat, ilmu pengetahuan, politik, dan kebudayaan. Buku ini menyajikan secara ringkas dan padat para pemikir dan intelektual Muslim lintas generasi, dari era klasik hingga kontemporer.
| Penulis | : | Muhammad Muhibbuddin |
|---|---|---|
| Penerbit | : | IRCiSoD |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | - |
| Halaman | : | 584 |