Konferensi Grozny pada 25–27 Agustus 2016 lalu mendeklarasikan rumusannya bahwa salah satu pilar Ahlussunnah wal Jama’ah adalah mengikuti Imam Junaid dalam tasawuf. Mengapa bukan tokoh sufi lain yang dijadikan rujukan? Hal ini karena Imam Junaid mampu mensintesis secara sempurna antara ma’rifah, haqiqah, dan syari’ah. Selain itu, banyak di antara tarekat mu’tabarah di kalangan muslim Sunni yang rantai sanadnya tersambung melaluinya. Ajaran Imam Junaid kelak menjadi fondasi dari Mazhab Baghdad (tasawuf “waras”) sebagai “lawan” dari Mazhab Khurasan (tasawuf “mabuk”). Karena model tasawuf yang dikembangkannya sangat moderat, ulama seketat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pun memujinya sebagai imam yang mendapat petunjuk. Buku ini berupaya menyingkap doktrin-doktrin inti tasawuf Mazhab Baghdad melalui pemikiran dan kehidupan Imam Junaid. Pembaca akan diajak mengenal riwayat hidup dan sosoknya sebagai seorang ahli hadits sekaligus ahli fiqh yang—seandainya tidak menekuni jalan tasawuf—hampir mencapai derajat mujtahid dalam Mazhab Syafi’i. Buku ini juga mengulas usahanya mengintegrasikan tasawuf dengan tauhid, serta perannya dalam merumuskan model tasawuf yang jernih dan tetap berpijak pada al-Qur'an dan sunnah, suatu corak tasawuf yang kelak dikembangkan secara lebih elegan oleh Imam al-Ghazali.
| Penulis | : | Muhammad Ali Fakih |
|---|---|---|
| Penerbit | : | DIVA Press |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | - |
| Halaman | : | 168 |