Sudah saatnya menghentikan ilusi tentang “sains Islam” seolah-olah ada jenis sains yang berbeda secara metodologis dari sains pada umumnya. Sains bersifat universal, empiris, dan bekerja menurut prosedur rasional yang sama. Yang membedakan bukan sainsnya, melainkan cara pandang, orientasi nilai, dan tujuan penggunaannya. Buku ini mengambil posisi tegas bahwa yang perlu dibangun bukan sains Islam sebagai entitas terpisah, melainkan pemahaman Islam atas sains yang mampu memberi arah, kritik, dan tanggung jawab moral. Islam tidak perlu bersaing dengan sains untuk membuktikan dirinya. Islam justru hadir untuk mengoreksi arah sains ketika ia kehilangan kompas etika. Karena itu, integrasi agama dan sains bukan berarti mengislamkan rumus, teori, atau laboratorium, melainkan mengislamkan tujuan, tanggung jawab, dan orientasi peradaban dari praktik ilmiah itu sendiri. Dengan demikian, sains tetap sains, tetapi tidak dibiarkan berjalan tanpa nilai. Di tengah perkembangan teknologi mutakhir, kecerdasan buatan, dan bioteknologi, sikap ini menjadi semakin mendesak. Sains yang lepas dari nilai telah berkali-kali memperlihatkan wajah destruktifnya: merusak lingkungan, memperlebar ketimpangan, dan memproduksi dehumanisasi. Buku ini menawarkan kritik tajam terhadap pemujaan sains yang netral secara moral, sekaligus menegaskan pentingnya Islam sebagai sumber nilai agar ilmu pengetahuan tidak berubah menjadi alat dominasi, melainkan menjadi sarana kemaslahatan manusia.
| Penulis | : | Dr. Ach. Maimun, M.Ag. |
|---|---|---|
| Penerbit | : | IRCiSoD |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | - |
| Halaman | : | 224 |