Kita terbiasa menyembunyikan air mata, menutup rasa kecewa, dan mengganti cerita dengan narasi “semua baik-baik saja”. Fenomena ini dikenal sebagai positivitas beracun, atau toxic positivity: dorongan berlebihan untuk menyingkirkan rasa sakit, seolah-olah kesedihan tidak punya tempat dalam hidup. Padahal, kesedihan adalah bagian dari pengalaman manusia yang normal. Ketika emosi negatif ditolak, pintu untuk belajar dari rasa sakit ikut tertutup. Yang tersisa hanyalah ilusi kebahagiaan, sementara kenyataan yang lebih kompleks tidak pernah benar-benar dihadapi. Dalam jangka panjang, tekanan untuk selalu tampak bahagia bisa membuat seseorang merasa terasing dari dirinya sendiri, seakan-akan perasaan yang paling manusiawi tidak layak untuk ditunjukkan. Ketika terjadi berulang kali, seseorang bisa kehilangan keberanian untuk berbagi cerita, memilih diam karena takut dianggap lemah. Ia hidup dalam narasi palsu, seolah-olah semua baik-baik saja, padahal di dalamnya ada luka yang meradang. Dalam jangka panjang, ini dapat menimbulkan dampak serius bagi kesehatan mental. Buku ini merupakan ajakan untuk meninjau ulang makna kebahagiaan—melihatnya sebagai pengalaman manusia yang berlapis, yang tumbuh dari ketangguhan dan kerentanan, dari kejujuran untuk merasakan seluruh spektrum emosi, bukan dari senyum yang dipaksakan.
| Penulis | : | Afthonul Afif |
|---|---|---|
| Penerbit | : | DIVA Press |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | - |
| Halaman | : | 204 |