Bukan Sekadar Merek Jeans dan Lukisan Pemandangan

Rp 95.000 20%
Rp. 76.000

Pada satu tahun setelah Reformasi 1998, Wahyudin, seorang pemelajar antropologi, mendapati kenyataan mengejutkan: seni rupa kontemporer Indonesia benar-benar tak terjamah pengkaji dan peneliti antropologi di republik ini.

Atas kenyataan itulah, dari pengalaman dan sudut pandang pemelajar antropologi dan penghayat seni rupa kontemporer Indonesia, buku ini terbit bersandar pada kebijaksanaan Nestor Garcia Canclini bahwa untuk memahami yang terjadi di dunia seni rupa dan budaya kontemporer, seseorang perlu menghabiskan banyak waktu di studio, galeri, museum, biennale, bursa seni rupa, dan simposium di banyak kota—berbicara dengan pemirsa yang menikmati atau menolaknya.

Tak pelak lagi, buku ini adalah pengejawantahan kebijaksanaan itu sekaligus percobaanmenggalakkan perbincangan antara antropologi dan seni rupa kontemporer Indonesiasebagaimanaterjadi di pelbagai negeri lain.

Hari-hari ini antropolog-antropolog kiwari seperti Arnd Schneider, Christopher Wright, Nestor Garcia Canclini, Paul van der Grijp, Roger Sansi, Stuart Plattner, dan Thomas Fillitz, untuk menyebut beberapa nama saja, giat meneliti dan menulis seni rupa kontemporer.

Para antropolog itu insaf, seturut Nestor Garcia Canlini, mereka bukan hanya mengandalkan inovasi artistik dan pameran terampu untuk memikirkan antropologi, melainkan juga bernapas dan hidup berkat seni rupa kontemporer dan berkomitmen akan kontribusinya.

Rincian buku:

Penulis : Wahyudin
Penerbit : BASABASI
Tahun terbit : 2024
ISBN : 978-623-305-460-7
Halaman : 284

Buku Terkait


George Orwell
Rp 80.000 30%
Rp 56.000

Ida Amal
Rp 250.000 0%
Rp 250.000

Italo Calvino
Rp 85.000 20%
Rp 68.000

Iman Budhi Santosa
Rp 90.000 20%
Rp 72.000

Wahyudin
Rp 95.000 20%
Rp 76.000

Roland Barthes
Rp 45.000 20%
Rp 36.000