Kawi Matin lahir dengan kaki cacat dan mengalami banyak kesialan. Dia tumbuh di tengah cemoohan, kemelaratan, dan hinaan. Hatinya putih, bening, tidak pernah memendam benci dan menaruh dendam kepada siapa pun. Dalam hidupnya yang didambakan cuma hal sederhana; ingin menjadi orang biasa. Ironinya, keinginan itu sulit sekali dicapai. Abang yang dikasihinya tewas dengan memilukan. Ayahnya sekarat dipukuli tentara dan kemudian ditembak mati. Kekasihnya diperkosa. Adik perempuannya dimangsa anak kepala kampung. Ibunya menderita sakit parah tanpa pengobatan layak dan akhirnya mati. Sampai kemudian tidak ada seorang pun yang patut lagi untuk dicintai. Kawi hidup di tengah gejolak pemberontakan yang melanda Aceh. Waktu itu nyawa manusia tidak lebih berharga daripada sebutir peluru. Serdadu begitu membabi-buta, membunuh siapa saja. Kekuasaan menjadi alat penindasan yang paling leluasa. Rakyat dipaksa tunduk, berkhianat, atau binasa tanpa sisa. Negara menjelma menjadi mesin pembunuh paling kejam. Dalam perjalanan panjang penuh petaka dan penderitaan akibat keganasan tentara, Kawi terpaksa melintasi batas-batas nuraninya sendiri. Yang dihadapinya bukan hanya serdadu-serdadu beringas pemerintah, melainkan juga pejabat dan penjahat-penjahat yang merampas dan menghancurkan hidupnya. Kawi Matin di Negeri Anjing merupakan sebuah novel yang mengaduk-aduk perasaan tentang cinta, kesetiaan, kehilangan, pengkhianatan, dan hati nurani. Dengan bahasa liris sekaligus menghunjam, Arafat Nur menghadirkan potret tajam sebuah masyarakat yang hidup di bawah bayang-bayang menakutkan. Salah satu karya yang sungguh sayang dilewatkan, penuh dinamika politik dan sosial bangsa yang sangat relevan, ditambah bumbu satire, ironi, dan humor pahit yang mengaduk-aduk perasaan. Hidup ini jalan pendek banyak liku. Jalur lurusnya lebih panjang, berakhir buntu.
| Penulis | : | Arafat Nur |
|---|---|---|
| Penerbit | : | Diva Press |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | 978-623-7290-68-1 |
| Halaman | : | 234 |