Burung dari keempat penjuru angin terbang bagai awan dan mengelamkan langit, menuju satu majelis akbar dengan urusan genting: Kaum mereka tak punya sultan-khalifah. Sang Tajidar, yang dahulu membawa pesan Sulaiman kepada Balqis, menyebut Simurgh di Gunung Qaf sebagai raja yang patut dicari. Dalih pun berdatangan. Bulbul setia pada mawarnya, Merak merindukan Firdaus yang telah mengusirnya, Burung Hantu mengeram di atas harta karun dalam reruntuhan, dan Itik yakin air tempatnya bersuci sudah menjadi sajadah. Sang Tajidar menepis tiap dalih dengan teguran atau kisah, seperti Syah Mahmud yang menyamar lalu menyantap roti penjaga tungku pemandian, dan bocah pemancing yang jaringnya penuh ikan sejak bayangan sultan melintas. Setiap burung dalam kisah ini membawa cela yang kita kenal pada diri sendiri. Dari kafilah yang berangkat, hanya tiga puluh burung menembus Lembah Pencarian dan pegunungan Makrifat hingga ambang pintu Sang Maha Kekal. Di hadapan singgasana, cermin memantulkan wajah mereka sendiri.
| Penulis | : | Fariduddin Attar |
|---|---|---|
| Penerbit | : | DIVA Press |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | - |
| Halaman | : | 92 |