Fajar belum sepenuhnya merekah di Kurusetra ketika seorang raja tua duduk termenung di atas kuda, menatap ribuan mayat di hadapannya. Dialah Prabu Salya, penguasa Mandraka yang semasa muda memilih mengembara sebagai pangeran pemberontak dan menikah tanpa restu orang tua. Karena angkuh menghina asal-usul mertuanya, keturunan bangsa raksasa, sang mertua memilih mati di tangan menantunya, mewariskan ajian pamungkas Candabirawa yang mengerikan. Ayahnya kelak menyusul bunuh diri karena sedih dan menyesal, mewariskan takhta Mandraka kepadanya. Kini, di ujung Perang Baratayuda, Prabu Salya dipaksa memimpin pasukan Kurawa sebagai panglima tertinggi, padahal dua keponakannya, Nakula dan Sadewa, berdiri di barisan Pandawa yang harus dihadapinya. Dalam novel ini, kesetiaan dan ikatan darah saling berbenturan hingga ajian Candabirawa bangkit kembali, melahirkan makhluk buas yang terus menggandakan diri dan nyaris meluluhlantakkan medan laga. Hanya ajian Kalimasada Yudhistira yang mampu menghentikannya, sebelum anak panah menembus jantung sang panglima, dan istrinya—Pujawati—memilih menyusul mengakhiri hidupnya dengan keris Luksanga milik suaminya.
| Penulis | : | Pitoyo Amrih |
|---|---|---|
| Penerbit | : | DIVA Press |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | - |
| Halaman | : | 382 |