Di tengah gemerlap kota Moskow, Leo Tolstoy berjalan memasuki lorong-lorong kemiskinan yang dipenuhi pengemis, buruh kelaparan, perempuan tuna susila, dan manusia-manusia yang perlahan kehilangan martabatnya. Ia awalnya percaya bahwa sedekah dan bantuan dapat menyelamatkan mereka. Namun semakin jauh ia menyaksikan kehidupan kaum miskin, semakin ia sadar bahwa penderitaan itu tidak cuma soal nasib buruk, tapi juga akibat dari tatanan sosial yang memungkinkan segelintir orang hidup nyaman di atas kerja dan kesengsaraan orang lain. Kota besar modern, yang tampak megah dari kejauhan, bagi Tolstoy berubah menjadi neraka sosial yang amat kejam. Melalui pengakuan yang jujur dan menyakitkan itu, Tolstoy seperti melontarkan pertanyaan: apakah kekayaan, pendidikan, dan kemewahan kaum elit sebenarnya dibangun dari penderitaan rakyat? Pertanyaan itu mengguncang seluruh keyakinannya tentang moralitas, agama, dan peradaban modern. Neraka Sosial adalah bagian pertama dari buku What Then Must We Do?. Buku ini berisi catatan tentang kemiskinan, ketimpangan sosial, dan kehancuran martabat manusia di tengah peradaban modern yang dianggap maju. Dengan gaya yang tajam sekaligus penuh pergulatan batin, Tolstoy menyoroti penderitaan kaum miskin dan membongkar kemunafikan masyarakat yang terbiasa hidup nyaman sambil menutup mata terhadap kesengsaraan sesamanya.
| Penulis | : | Leo Tolstoy |
|---|---|---|
| Penerbit | : | basabasi |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | - |
| Halaman | : | 204 |