Prabu Parikesit merasa tidak tenang. Pada perjamuan tahunan, beberapa pemimpin negara yang tergabung dalam perserikatan Astina tidak hadir, di antaranya Prabu Wesiaji dari negara Trajutrisna dan Prabu Purbaseraba dari Mahespati. Mengirim utusan pun tidak. Bahkan, terdengar kabar bahwa mereka hendak melepaskan diri dari perserikatan negara Astina karena merasa dijajah selama ini. Anak-anak Semar: Petruk, Bagong, dan Gareng, pun diberi amanat untuk mengirimkan surat kepada Prabu Wesiaji dan Purbaseraba yang berisi pertanyaan tentang ketidakdatangan mereka. Namun, bukanlah surat balasan yang diberikan oleh kedua raja, melainkan tantangan perang. Perang pun tak dapat dihindari. Prabu Wesiaji memimpin negara sekutu: Trajutrisna, Mahespati, Gandara, Magada, Kosala, dan Nisada menyerang Astina. Sementara, Astina dibantu oleh tiga negara sahabat, yakni Mandura, Wirata, dan Pancalaradya. Dalam perang tersebut, para pemimpin negara pemberontak berhasil ditumpas, dan dua di antaranya tertawan. Tinggallah Prabu Wesiaji sebagai pemimpin negara sekutu. Ia memiliki ilmu kekebalan tubuh sehingga tak mempan oleh tusukan senjata tajam. Hal itu karena ia memiliki aji Garuda Naga Candrama. Ia tidak akan mati selama burung peliharaan yang dianugerahkan oleh dewa, yakni garuda naga candrama masih hidup. Dan, menurut Semar, kesialan Prabu Wesiaji ada di tangan Raja Wirata, yakni Prabu Sungging Prabangkara. Maka, Petruk pun diutus untuk memohon bantuan kepada Raja Wirata. Raja Wirata menyanggupi dan memimpin sendiri bala bantuan untuk dikerahkan ke istana. Ia pun berhadapan dengan Prabu Wesiaji dalam perang tanding. Berkali-kali Raja Wirata berhasil menusukkan senjatanya pada Prabu Wesiaji, tapi sang lawan tak juga tertembus badannya. Akhirnya, Raja Wirata memutuskan untuk mengikuti nalurinya. Ia lari dari arena dan meminta sang lawan untuk mengejarnya. Kejar-kejaran pun terjadi hingga akhirnya, Raja Wirata ditemui oleh Batara Narada. Batara Narada menyarankan Raja Wirata untuk berlari ke arah tenggara hingga bertemu sebuah kerajaan. Di situlah rahasia kekebalan Raja Trajutrisna akan terbongkar. Raja Wirata mengikuti saran dari Batara Narada. Ia terus berlari ke arah tenggara hingga memasuki sebuah kerajaan yang ternyata adalah Trajutrisna. Nalurinya mengajaknya masuk ke dalam keputren yang saat itu tidak dijaga karena semua prajurit dikerahkan ke Astina. Di dalam keputren, Raja Wirata bertemu dengan kekasihnya pada masa lampau, yakni Dewi Risnawati. Dulu, Raja Trajutrisna telah merebut Dewi Risnawati darinya. Sampai sekarang, Raja Wirata belum punya pendamping karena masih memendam cinta pada Dewi Risnawati. Begitu pun Dewi Risnawati masih mencintai Raja Wirata walau sekarang telah menjadi istri orang lain. Pada pertemuan itu, Raja Wirata menceritakan permasalahannya, yakni kesulitan menewaskan Prabu Wesiaji. Dewi Risnawati pun bersedia membantu karena ia tahu rahasia kekebalan suaminya. Pernah suatu ketika, sang suami kelepasan bicara sehingga membeberkan rahasia kesaktiannya kepada Dewi Risnawati. Dewi Risnawati mengajak Prabu Sungging Prabangkara ke dalam ruangan rahasia. Di situ terdapat burung berekor ular yakni garuda naga candrama. Prabu Sungging pun memanah burung tersebut hingga mati. Prabu Wesiaji tiba di keputren. Ia marah melihat Prabu Sungging tengah berbincang mesra dengan istrinya. Kembali kedua raja itu bertarung. Pada suatu pergumulan, Prabu Sungging mampu menusuk dada Prabu Wesiaji. Tewaslah Prabu Wesiaji di tangan Prabu Sungging Prabangkara.
| Penulis | : | Ardian Kresna |
|---|---|---|
| Penerbit | : | DIVA Press |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | - |
| Halaman | : | 328 |